Senin, 05 Maret 2012

Ciri Bentuk Reduplikasi dalam bahasa indoesia

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang berasal dari bahasa Melayu. Namun, bahasa Indonesia sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa sehingga sudah meninggalkan bahasa Melayu yang merupakan bahas Induk. Perkembangan bahasa Indonesia tersebut dipengaruhi banyak factor diantaranya adalah penyerapan bentuk asing di laur bahasa Indonesia baik dalam kata maupun dalam bentuk struktur pembentuk dan perkembangan struktir bentuk itu berkenaan dengan pemakaian bahasa.
Salah satu bentuk yang struktur yang mengalami perkembangan dalam hal perkembangan struktur bentuk adalah bentuk reduplikasi atau kata ulang. Reduplikasi atau bentuk pengulangan dalam bahasa Indonesia terjadi baik pada tataran fonologis, morfologis, maupun dalam tataran sintaksis. Reduplikasi dalam tataran fonologis tidak mengalami perubahan makna sehingga belum dapat dikatakan sebagai sebuah kata ulang yang sesungguhnya. Hal ini terjadi karena pengulangannya hanya pada pengulangan bunyi bukan pada pengulangan leksem. Lain halnya pada reduplikasi morfologis yang pengulangannya terjadi pengulangan leksem.

Reduplikasi merupakan bentuk yang unik. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sudut pandang dan klasifikasi pada teori bahasa. Meskipun bentuknya kelompok kata, teta[I masih dikelompokkan menjadi sebuah kata. Bukan frasa.
Melihat keunikan rweduplikasi tersebut, penulis tertarik untuk membahas tentang reduplikasi dalam makalah ini. Pembahasan akan difokuskan pada bentuk, makna, dan proses pembentukan reduplikasi terutama pada jenis reduplikasi berafiks.


B.
Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis akan memfokuskan permasalah pada jenis
1. Bagaimana ciri bentuk reduplikasi dalam bahasa Indonesia.

2. Bagaimana proses morfologis pembentukan reduplikasi berafiks

3. Bagaimana. ciri makna reduplikasi berafiks.

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini yakni bagaimana dapat medeskripsikan ciri betuk reduplikasi dalam bahasa indonesia serta bagaimana proses morfologis pembentukan reduplikasi berafiks dan ciri makna reduplikasi berafiks sebagaianna tertera pada permasalahan.




BAB II

KAJIAN TEORI

Sebagai landasan berpikir dalam pembahasan reduplikasi berafiks, penulis menggunakan beberapa teori yang berhubungan dengan definisi reduplikasi, jenis reduplikasi, dan makna reduplikasi.

Definisi Reduplikasi

Ada beberapa pendapat tentang definisi reduplikasi yang p[enulis peroleh. Salah satunya adalah JWM. Verhaar yang mengatakan bahwa reduplikasi merupakan proses morfemis yang membentuk pengulangan dari sebuah atau sebagian bentuk dasar. Pendapar Verhaar ini diperkuat lagi dengan pendapat M.Ramlan yang mengatakan reduplikasi sebagai satuian gramatik baik seluruh maupun sebagian baik dengan variasi fonem maupun tidak.

Dari kedua pendapat di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa reduplikasi harus memiliki unsur

1. Terjadinya perulangan dari suatu bentu dasar.

2. pengulangan bentuk dasar bias terjadi secara penuh ataupun parsial.

3. pengulangan bias terjadi dengan variasi fonem ataupun tidak.


Jenis Reuplikasi

Ada beberapa jenis reduplikasi yang dikem,ukakan oleh ahli-ahli linguistic. Verhaar membagi reduplikasi menjadi dua yaitu reduplikasi keseluruhan dan reduplikasi parsial. Reduplikasi keseluruhan adalah reduplikasi yang proses pengulangannya terjadi secara menyeluruh dari suatu bentuk dasar. Sebagai contoh leksem makan menjadi makan-makan, rumah menjadi rumah-rumah. Sedangkan reduplikasi parsial adalah reduplikasi yang pengulangaanya hanya sebagaian dari suatu bentuk dasar. Sebagian tersebut bias di awal maupun diakhir bentuk dasar yang mengalami reduplikasi. Sebagai contoh adalah leksem luhur menjadi luluhur kemudian mengalami penyederhanaan menjadi leluhur.

Lain Halnya dengan Harimurti Kridalaksana. Harimurti membagi reduplikasi menjadi dua kelompok yaitu dari sudut pandang kajian yang meliputi reduplikasi fonologis, morfologis, dan sintaksis. Di samping iti harimurti juga mengelompokkan reduplikasi sesuai dengan bentuknya yaitu reduplikasi dwipurwa, dwilingga, dwilingga salin swara, dwiwasana, dan trilingga.

Reduplikasi fonologis adalah reduplikasi yang pengulangannya terjadi pada tataran fonologis atau bunyi. Reduplikasi jenis ini tidak mengalami pengulangan leksem sehingga tidak menimbulkan mkna baru. Reduplikasi morfemis adalah reduplikasi pada ta6taran morfologi yang mengakibatkan pengulangan suatu leksem. Pemngulangan ini mengakibatkan timbulnya sebuah makna baru. Reduplikasi sintaksis adalah proses yang terjadi atas leksem yang menghasilkan satuan yang berstatus klausa. Reduplikasi jenis ini sudah dihubnfngkan dengan penggunaannya dalam klausa.

Reduplikasi dwipurwa adalah pengulangan suku kata pertama oada sebuah leksem dengan pelemahan vocal. Contoh:

Tangga → tatangga → tetangga

Tamu → tatamu → tetamu

Sama → sasama → sesame


Reduplikasi dwilingga yaitu terjadinya pengulangan leksem secara utuh. Contoh

Rumah → rumah-rumah

Makan → makan-makan

Pagi → pagi-pagi

Reduplikasi dwilingga salin swara adalah reduplikasi dengan pengulangan leksem deangan variasi fonem. Contoh:

Coret → corat-coret

Balik → bolak-balik

Senyum → senyam-senyum



Reduplikasi dwiwasana adalah pengulangan bagian belakang dari leksem yang diulang.Contoh:

Pertama → pertama-tama

Sekali → sekali-kali

Perlahan → perlajan-lahan


Reduplikasi Trilingga yaitu reduplikasi tiga bentuk. Redupolikasi jenis ini pada
umumnya pengulangan anomatope atau peniruan bunyi dengan variasi fonem.

Contoh
Dor → dar-der-dor

Ramlan membagi reduplikasi memjadi empat yaitu pengulangan seluruh, pengulangan sebagian, pengulangan berimbuhan, dan pengulangan dengan perubahan fonem.pengulangan seluruh versi Ramlan ini sama dengan reduplikasi dwilingga yang dikemukakan oleh Harimurti. Pengulangan sebagian berhubungan dengan dwipurwa dan dwiwasana versi harimurti atau pengulangan parsial versi Verhaar.

Dari beberapa pendapat di atas dapat kami sarikan tentang jenis kata ulang atau reduplikasi yaitu

1. Reduplikasi utuh atau seluruh yaitu redupliasi yang proses pengulangannya terjadi pada keseluruhan bentuk dasar atau leksem yang diulang.

2. reduplikasi sebagian yaitu reduplikasi yang pengulangannya terjadi hanya sebagian dari bentuk dasar atau leksem yang diulang. Sebagian dari bentuk dasar tersebut bias pengulangan hanya pada bagoian depan ataupun bagian belakang.

3. Reduplikasi berubah bunyi yaitu reduplikasi yang pengulangannya mengakibatkan variasi fonem.

4. Reduplikasi berafiks atau berimbuhan yaitu reduplikasi yang mendapatkan imbuhan baik berupa prefiks, infiks, sufiks, ataupun konfiks.

Makna Reduplikasi

Makna reduplikasi merupakan makna tambahan yang dihasilkan dari adanya proses morfologis yang membentuk sebuah pengualangan dari sebuah bentuk dasar. Dari beberapa data yang ada, penulis ingin menampilkan beberapa makna dari kata ulang. Makna-makna tersebut adalah:

1. Pekerjaan yang dilakukan sungguh-sungguh (intensif) Contoh: Jangan diangkat-angkat lagi barang itu.

2. Pekerjaan yang dilakukan sambil lalu. Contoh: Adik suka tidur-tiduran di lantai

3. pekerjaan yang dilakukan berkali-kali. Contoh: Mereka tertawa-tawa saat mendengarkan cerita lucu.

4. berbalasan (resiprokal). Contoh: Kedua orang itu cubit-cubitan.

5. yang memiliki sifat yang dikemukakan bentuk dasarnya lebih dari satu. Contoh:
Anak-anak pak Romli cantik-cantik.

6. ketidakpastian Contoh: Kami tidak boleh mengerjakan soal itu secara untung-untungan.

7. jamak atau banyak. Contoh: Pohon-pohon di sepanjang Jlan Sudirman akan ditebang.

8. bermacam-macam. Contoh:Saat hari raya semua orang berpakaian warna-warni yang meriah.

9. variasi hal. Contoh: Jari-jemari Novi amat lentik.

10. segala macam Contoh: dukun itu meminta sesajian dari kembang tujuh rupa.

11. segala macam yang di- Contoh: Banyak tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di hutan tropis.

12. yang dianggap. Contoh: leluhur bangsa Indonesia adalah orang pemberani

13. ketdaktentuan Contoh: Coba kamu tanyakan soal itu kepada siapa-siapa saja yang kamu inginkan.

14. yang bertindak sebagai Contoh: Meskipun sudah bapak-bapak, gaya pak Amir masih seperti anak muda.

15. menyerupai / mirip Contoh:langit-langit rumah kami sedang diperbaiki.

16. melakukan sesuatu mirip dengan sifat Contoh: andi dan temannya sedang bermain kucing-kucingan di samping rumah.

17. kumpulan berbagai jenis Contoh: Susi lebih suka dengan makanan yang berasal dari umbu-umbian.

18. keheranan Contoh: Apa-apan sih, kok kamu aneh begitu?

19. beberapa Contoh: Berpuluh-puluh mahasiswa berkumpul di depan kantor recto


BAB II

PEMBAHASAN

Ciri Bentuk Reduplikasi

Ada beberap cirri bentuk Reduplikasi dalam bahasa Indonesia. Ciri-ciri tersebut adalah

1. Reduplikasi tidak mengubah golongan kata bentuk dasar yang diulang. Dengan kata lain kelas bentuk dasar kata ulang tersebut masih sama dengan setelah terjadi pengulangan. Sebuah nomina apabila diulang maka akan menjadi nomina pula. Contoh:

Rumah (N) Rumah-rumah

Berkata Berkata-kata

Cepat cepat-cepat

Keempat keempat-empat

Merah kemerah-merahan

2. Bentuk dasar kata ulang berupa satuan satuan yang terdapat dalam penggunaan bahasa. Sebagai contoh adalah kalimat

Irma memukul-mukulkan tongkat itu ke bangku.

Reduplikasi memuku-mukulkan memiliki kesempatan bentuk dasarnya berupa *memukul, *mukulkan, dan memukulkan. Kata memukul merupakan bentuk tak terterima seperti halnya mukulkan. Jadi jelas, kata ulang memukul-mukulkan berasal dari

kata dasar memukulkan karena bentuk memukulkanlah yang terterima. Contoh lain adalah mengata-ngatakan berasal dari mengatakan bukan *mengata atau *ngatakan. Berdesak-desakan berasal dari berdesakan bukan *berdesak atau *desakan.

3. Proses bentuk reduplikasi berafiks mungkin

· Proses reduplikasi dan afiksasi terjadi bersamaan. Contoh -ton ber + R berton-ton

Pada kasus ini ber- dan reduplikasi ton-ton terjadi secara bersamaan karena bentuk *ton

ton tidak terterima dalam bahasa Indonesia.

· proses afiksasi terjadi lebih dahulu baru proses reduplikasi. Contoh:

lari berlari berlari-lari, mingat mengingat mengingat-ingat

· Proses reduplikasi terjadi lebih dahulu baru proses afiksasi. Contoh:

mobil Mobil-mobil mobil-mobilan

robot robot-robot robot-robotan

Di sini tampak jelas bahwa mobil dan robot mengalami proses reduplikasi terlebih

dahulu. Dalam bahasa Indonesia *robotan dan *mobilan tidak terterima.

4. sifat reduplikasi bias bersifat paradigmatic dan juga bias derivasional.

5. Reduplikasi dapat berupa semantic yaitu reduplikasi yang tersusun dari dua kata yang

maknanya bersinonim yang membentuk satu kesatuan. Misalnya:

Hancur-luluh

Terang-benderang

Gelap-gulita

Proses Morfologis Reduplikasi Berafiks

Yang dimaksud dengan reduplikasi berafiks adalah reduplikasi yang mendapatkan afiks atau imbuhan. Ada dua kemungkinan sebuah kata ulang memiliki afiks secara proses. Kemungkinan pertama adalah sebuah kata mendapatkan afiks terlebih dahulu baru kemudian mengalami proses afiksasi. Kemungkinan kedua adalah sebuah leksem atau bentuk dasar mengalami proses reduplikasi terlebih dahulu baru kemudian mendapatkan afiksasi. Berikut ini adalah diagram proses pembentukan afiks dari kedua proses di atas.
Proses

1. Leksem , afiksasi, reduplikasi, kata ulang

Proses

2. Leksem , reduplikasi, afiksasi, kata ulang

Contoh proses pertama adalah

leksem afiks Kata jadian reduplikasi

Ambil Me- mengambil mengambil-ambil
Tarik di- Ditarik Ditarik-tarik

Main Ber- Bermain Bermain-main

batuk Ter- Terbatuk Terbatuk-batuk

Dekat Ber-an Berdekatan Berdekat-dekatan

Makan -an Makanan Makan-makanan

dua Ke- kedua Kedua-dua



Proses pertama ini meskipun memiliki afiks ataupun imbuhan pada bentuk kata dasarnya tetapi tidak disebut dengan kata ulang berafiks. Hal ini disebabkan oleh proses pemberian afiksnya terjadi sebelum proses reduplikasi terjadi. Menurut M. Ramlan jenbis pertama ini dikategorikan sebagai reduplikasi sebagian sedangkan Harimurti lebih cenderung pada bentuk reduplikasi dwiwasana.

Lain halnya dengan proses kedua. Pada proses kedua ini afiks diberikan setelah proses reduplikasi terjadi. Karena hal itulah, Ramlan mengatgorikan jenis ini sebagai reduplikasi berafiks. Afiks bias berupa prefiks atau awalan, infiks atau sisipan, sufiks atauakhiran, dan konfiks atau gabungan awalan dan akhiran. Berikut ini adalah contoh reduplikasi berafiks yang dapat penulis temui dari berbagai sumber

leksem afiks reduplikasi Keterangan

gila Ter- Tergila-gila Kata *tergila sebagai bentuk dasr tidak berterima.

kuda -an Kuda-kudaan *kudaan
kereta -an Kereta-keretaan *keretaan
sakit -an Sakit-sakitan *sakitan
rumah -an Rumah-rumahan *rumahan
kucing -an Kucing-kucingan *kucingan
acak -an Acak-acakan *acakan
cepat
Se- nya Secepat-cepatnya

gunung -em- Gunung-gemunung *gemunung
tali -em- Tali-temali *temali
Ragu (A) Ke-an Keragu-raguan *keragu, *keraguan (N), *raguan

merah Ke-an Kemerah-merahan *kemerah, *kemerahan, *merahan

dalam Se-nya Sedalam-dalamnya

Makna Yang ditimbulkan dari reduplikasi berafiks

Beberapa makna yang ditimbulkan dari proses morfologis yang membentuk reduplikasi

berafiks anatar lain

1. Kemiripan bentuk.Contoh

a. ayah membelikan adik mobil-mobilan.

b. Deni sedang membuat kereta-keretaan.

c. Mereka membuat rumah-rumahan di samping rumah.

2. kemiripan sifat. Contoh

a. adik sedang bermain kucing-kucingan.

b. Anak-anak sedang bermain pengantin-pengantinan.

c. Susi sedang masak-masakan bersama Santi.

3. agak

a. Langit senja itu tampak kemerah-merahan.

b. Wajahnya kehitam-hitaman terkena arang.

c. Wajahnya pucat keputih-putihan saat melihat bayangan hitam itu.

4. berkali-kali atau sering. Contoh

a. Sejak kelahiran anaknya yang pertama, Zaenab sering sakit-sakitan.

b. Sakit jiwanya sering kumat-kumatan terutama kalau sedang bermasalah.

5. intensitas

a. Galilah lubang sumur itu sedalam-dalamnya.

b. Jamal berlari secepat-cepatnya untuk menjadi yang pertama sampai di tempat tujuan yang telah ditentukan.

c. Makanlah sepuas-puasnya.

6. hal yang berhubungan dengan

a. Gunung-gemunung menjulang tinggi.

b. Jari-jemari manusia memiliki fungsi tersendiri.

BAB IV

KESIMPULAN

Sipulan

Dari pembahasan di atas, dapat penulis berikan kesimpulan yang berhubungan dengan reduplikasi terutama pada jenis reduplikasi berafiks.
1. Reduplikasi berafiks adalah salah satu jenis reduplikasi yang mendapatkan imbuhan.
2. imbuhan pada reduplikasi berafiks terjadi setelah proses reduplikasi terjadi atau bersamaan denganproses reduplikasi tersebut.
3. afiks yang menunjang pada proses reduplikasi berafiks dapat berupa prefiks, infiks, sufiks, ataupun konfiks.
4. Reduplikasi baik berafiks ataupun tidak tidak dapat mengubah kelas kata pada bentuk dasarnya.



DAFTAR PUSTAKA


Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bhasa Indonesia. Jakarta : Gramedia.
M. Ramlan. 1997. Morfologi : Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV.Karyono.
Mulyono. 2003. Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mapel Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
Verhaar. .Dasar-Dasar Linguistik. Yogyakarta : Kanisius
Beberapa media cetak.